Sabtu, 06 Oktober 2012

BIOSECURITY UNGGAS


BIOSECURITY
Secara  keseluruhan, system biosecurity meliputi tiga hal, yaitu biosecurity konseptual, biosecurity structural, dan biosecurty oprerasional. Ketiganya harus berjalan sinergis agar memperoleh hasil yang optimal.
1.      Biosecurity konseptual
Aktifitas yang termasuk dalam lingkup ini yaitu penentuan lokasi kandang serta bagaimana posisi dan konstruksi bangunan yang dibuat. Prinsipnya adalah pemilihan lokasi usaha peterakan disuatu daerah tertentu harus memenuhi syarat untuk menjaga jara antar peternakan, bangunan atau fasilitas lain seperti hatchery; pabrik pakan, rumah potong ayam, dan perumanhan penduduk, akses transportasi dan lingkungan sekitar. Ternasuk juga didalamnya perhatian terhadap factor pendukung seperti tekstur tanah, topografi, ketersediaan air, dan keberadaan hewan liar atau jenis unggas lain.
2.      Biosecurity structural
Biosecurity ini terkait dengan cara menciptakan lingkungan kandang yang baik, tata letak atau desain perkandangan, jalan-jalan yang dilalui, dekontaminasi peralatan, instalasi penyimpanan pakan, ruang ganti pakaian, dan peralatan dalam kandang. Kegagalan biosecurity structural umumnya dapat diperbaiki dengan jangka menengah melalui investasi modal yang memadai.
3.      Biosecurity operasional
Aktifitas yang tercakup dalam biosecurity ini adalah prosedur manajemen rutin dengan maksud mencegah agar agen penyakit tidak masuk menyebar didalam komplek peternakan. Aktifitas lain yang termasuk dalam jenis biosecurity ini yaitu kebijakan dna prosedur teknis untuk orang luar, pekerja kandang, supplier, peralatan yang masuk, pengendaian vector, serta pemantauan terhadapp status kesehatan dan kekebalan ternak yang berkesinambungan oleh seluruh pekerja.
Manajemen rutin sewaktu-waktu dapat disesuaikan jika biosecurity operasional mengalami kegagalan. Peninjauan ulang prosedur secara teratur, peran seluruh manajemen dan karyawan, serta pemantauan yang memadai terhadap kesehatan dan kekebalan unggas dalam setiap kandang akan menunjang keberhasilan biosecurity operasional.
Evaluasi terhadap sstem biosekuriti pada peternakan yang sedang berjalan merpakan hal terpenting dalam mengembangkan program yang efektif untuk mencegah penyakit masuk ke farm atau membatasi penyebarannya diantara beberapa kandang. Dengan demmikian, biosekuriti tidak boleh dipersempit hanya sebatas tindakan sanitasi dan desinfeksi.
Tindakan biosekuriti dimulai dari kualitas DOC, pakan, obat, vaksin, persyaratan pendirian kandang, kualitas air sampai peralatan pemasaran produk unggas. Dengan begitu pelaku yang bertanggng jawab terhadap biosekuriti suatu farm sebenarnya adalah perusahaan bibit, obat, pakan, peternak dan produsen peralatan pemasaran ayam.
Sumber penyakit:
1.      manusia, meliputi pekerja, technical service (TS), dokter hewan, vaksinator, sopir ataupun penangkap ayam
2.      ayam, meliputi DOC, ayam petelur dara, ayam pejantan, sperma dan sebagainya
3.      peralatan yang terkontaminasi
4.      vector, misalnya rodensia (tikus), burung liar, insekta, angin dan air.





KRITERIA BIOSECURITY
a.       Biosecurity Struktural
Biosekuriti ini terkait dengan keberadaan kandang ayam yang dirinjau dari lokasi dan struktur kandang. Peran pemerintah dan pelaku bisnis perunggasan diperlukan untuk berunding bersama dalam mengatur lokasi peternakan yama yang sangat menentukan. Jarak antar kandang atau jarak kandang dengan pemukiman tentu memerlukan perhitungan, contoh virus avian influenza (AI) dapat diterbangkan oleh angin sejauh 1-2km. karena itu jarak antar farm sebaiknya dibuat lebih dari 2km. pada jarak tersebut, kemungkinan kucing atau anjing yang menggonggong bangkai ayam dari suatu farm tidak akan sampai ke farm lainnya.
Aliran air. Kebanyakan penyakit dapat disebarkan malalui air, oleh karena itu aliran buangan air perlu diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga dapat mencegah penularan suatu pemyakit dalam mencegah penularan suatu penyakitdalam suatu kawasan melalui air. Sebagai pertimbangan, setiap kandang sebaiknya memiliki septic tank, sehingga air dari kandang tidak langsung mengalir keluar, tetapi diproses terlebih dahulu.
Jika secara fakta hal tersebut sulit dilakukan, peternak bias menentukan beberpa kandang atau farm berdekatan dianggap sebagai satu kesatuan unit. Dengan begitu diperlukan kesamaan perlakuan antarfarm (pemilik). Hal tersebut bias ditentukan bersama antar pelaku usaha peternakan.
b.      Biosecurity Funfsional
Terkait dengan pekerjaan praktis, sebaiknya tindakan biosekuriti dilakukan didalam kandang. Salah satunya yaitu penggunaan desinfektan. Penggunaan desinfektan sebaiknya dirotasi. Rotasinya bias berdasarkan merek atau berdasarkan kandangnya. Perlu kehati-hatian dalan menggunakan jenis desinfektan. Penggunaan desinfektan tidak ubahnya penggunaan antibiotic yang bias menimbulkan sifat resistensi pada mikroorganisme. Jika masih efektif menggunakan desinfektan sederhana, sebaiknya tidak perlu menggunakan desinfektan dengan tingkat tinggi. Misal, sabun atau bilasan pertama dari cucian baju masih efektif untuk jenis mikroorganisem tertentu.
Salah satu kekhawatiran terhadap resistensi ini yaitu terbentuknya biofilm. Dengan adanya biofilm, agen penyakit bias bersembunyi dan menghindar dari suatu desinfektan serta resisten terhadap antibiotic tertentu. Karena itu, pengetahuan, pemahaman, dan pelaksanaan proses desinfeksi dengan berbagai macam desinfektan sangat mutlak diperlukan. Penyemprotan terhadap kendaraan atau orang yang keluar masuk areal peternakan dapat ditentukan sesuai dengan kondisi kandang. Contoh, untuk kunjungan TS, jarak parkir mobil dengan kandang pertama bias ditentukan, yakni sekitar 50m. selanjutnya TS menggunakan pakaian yang telah disediakan, dari sepatu, topi, hingga penutup kepala.
Para TS yang pekerjaannya mengunjungi kandang juga harus melakukan biosekuriti terhadap perlengkapan yang akan dibawa kekandang. Tidak cukup hanya sekedar mencuci kendaraan setiap hari, tetapi juga melaukan desinfeksi pada kendaraannya setiap hari. Pengaturan desinfeksi juga berlaku bagi orang-orang kandang, dari pekerja bawah sampai pimpinan atau pemilik peternakan, tidak ada pengecualian.
c.       Biosecurity Legal
Merupakan tangung jawab para pengambil kebijakan untuk ikut menentukan segala hal yang berkaitan dengan penataan peternakan disuatu daerah. Hal tersebut merupakan wujud keikut sertaan pihak birokrat dalam mencegah timbulnya masalah pemyakit atau damapak social yang disesuaikan dengan daya dukung suatu daerah loksi peternakan berada.
Tentunya, hal yang perlu dihndari jika biosekuriti legal ini hanya diterjemahkan sebaga retribusi “numpang lewat”. Sebagai contoh, mumpung ada kasus AI, setiao daerah beramai-ramai mewajibkan adanya retribusi atau tarikan biaya dengan mengatasnamakan pengamanan AI, padahal tidak ada upaya apapun untuk mencegah terjadinya kasus AI didaerah tersebut.
d.      Bioscurity Mental
Merupakan sikap biosekuriti yang pokok dari masing-masing pelaku dalam peternakan. Bisnis peternakan merupakan bisnis yang sulit diramalakan karena unit usahanya berupa barang hidup atau menggunakan bahan biologis. Menerimanya karyawan tidak terbiasa menangani barang hidup tentu tidak mudah. Diperlukan pendidikan dan aturan yang jelas, sehingga karyawan tersebut dapat mengubah sikap mentalnya. Sebagai contoh, jika mendengar suara ayam yang tidak seperti biasanya, apapun yang dipegangnya saat itu sebaiknya ditinggalkan untuk mencari asal suara tersebut. Demikian juga menemui ayam yang mati, karyawan harus segera mengubur atau membakarnya.
Melakukan dengan system mandor juga seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Artinya, melakukan pekerjaan hanya ketika diawasi oleh atasannya. Demikian juga jika sistemperusahaan yang mewajibkan setiap orang yang masuk, termasuk pekerja, harus didesinfeksi, semua orang harus menaati peraturan tersebut.
Sikap mental merupakan kunci utama untuk melaksanakan biosemuriti dalam suatu peternakan. Keberhasilan suatu peternakan unggas dalam emncegah penyakit sangan ditentukan oleh berbagai factor seperti jenis usahanya, lingkungannya, agen penyakit, yang ada disuatu lokasi, dan sikap mental dari pengelolanya.
Internal memo sangat dibutuhkan untuk menunjang karyawan dalam menaati perturan secara tertulis, sehingga atasan tidak perlu mengawasi secara detail, tapi dengan adanya memo dapat membantu dalam pembentukan karakter karyawan menjadi lebih baik dan lebih disiplin pertauran. Ini membuktikan bahwa sudirman sungguh-sungguh menjalankan prosedur biosekuriti, baik biosekuriti konseptual, structural, maupun operasional. Komitmen tersebut bias terwujud karena biosekuriti mental dari pemimpin hingga operator kandang sudah matang.
Kepemimpinan, perencaan system, dan modal intensif yang baik telah membentuk suatu kesadaran biosekuriti mental secara otomatis. Sejak awal, Sudirman selalu menyatakan, jika semua input produksi serta sarana dan prasarana pendukungnya ideal, hasil yang akan dicapai juga pasti ideal. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan komitmennya untuk memenuhi segala keperluan ayam berdasarkan pengalaman operator, kepala kandang, dan supervisor yang berada dilapangan. Semangat komitemn ini tampaknya menurun kesegenap organ manajemen. Selain itu, semua karyawan Sudirman merasa dihargai karena masukannya diindahkan oleh pihak manajemen, sehingga mereka ikut merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kondisi perusahaan. Mereka semua bias searah dan sepandangan dalam membesarkan Berkah Group.



PROGRAM KESEHATAN
A.                Rasionalitas dan Etika Pemakaian Antibiotika
Penggunaan anibiotika berpeluang menyumbang residu pada produk daging atau telur yang mengakibatkan manusia resisten terhadap senyawa antibiotic tertentu. Antibiotic juga berpeluang mengakibatkan resistensi pada unggas dan menambah beban biaya obat-obatan. Terlebih bentuk ketersediaan antibiotic di Indonesia juga sangat beragam, dari benuk jadi hingga murni. Hal tersebut menyebabkan tingkat kualitas antibiotic juga menjaadi sangat beragam. Dengan demikian, pemakaian antibiotic harus rasional dan berdasarkan etika.
Penentuan sumber penyakit dan pemilihan antibiotic yang sesuai dengan diagnosis sering kali membutuhkan biaya yang mahal, sehingga harus memiliki recording yang baik setelah menggunakan berbagai jenis antibiotic. Untuk mendapatkan dosis yang benar, harus memperhatikan cara pemberiannya baik melalui air, pakan suntikan dan lain-lain.
Tingkat konsumsi juga harus diperhatikan. Jika ayam tidak mau makan atau minum, pemberian antibiotic menjadi percuma. Hal lain yang harus dicamkan adalah antibiotic tidak membunuh semua bakteri atau protozoa yang menginfeksi melainkan hanya sebagian besar. Sisa agen yang ada harus dapat dibasmi sendiri oleh mekanisme kekenalan tubuh ternak. Karena itu, selain melakukan prosedur operasional biosekuriti yang ketat, peternaka Sudirman juga melakukan pengendalian penyakit yang meliputi program pengobatan untuk pencegahan penyakit dan pengobatan jika sudah terjadi wabah. Fungsi control tetap merupakan hal yang sangat mutlak. Pengawasan proses produksi juga dilakukan sebagai upaya detesi dini sebelum terjadi wabah, sehingga dapat melakukan tindakan yang cepat dan tepat.
Di samping program program pengobatan, pengendalian penyakit dilakukan dengan cara seleksi dan culling. Seleksi dilakukan pada DOC dating sampai ternak ayam besar. Seleksi dibagi menjadi dua kelompok. Pada kelompok pertama dilakukan seleksi berdasarkan berat, seleksi selanjutnya yakni seleksi harian ayam menunjukkan gejala sakit secara individual, sehingga penyebaran penyakit didalam flok dapat ditekan. Culling adalah melakukan eksekusi pada ayam yang dianggap tidak layak untuk dibesarkan atau bias menularkan penyakit pada ayam lainnya dalam satu flok. Pada peternakan yang terserang kasus penyakit, penanganan persiapan kandang untuk masuk kembali juga memerlukan perlakuan khusus. Berdasarkan etika, peternak tidak boleh menjual produk ternak yang masih dalam proses pengobatan. Pemberian antibootik  harus dihentikan minimum satu minggu atau menurut waktu penghentian yang dianjurkan sebelum produk dijual dipasaran. Hal tersebut disebabkan timbunan residu dalam produk tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh manusia.
Setidaknya ada dua akibat buruk yang ditimbulkan oleh penggunaan antibiotic yang tidak tepat, yaitu terjadinya kegagalan pengobatan dan timbulnya resistensi. Karena itu, berhati-hatilah dalam menyusun program kesehatan.
Mikroba jenis tertentu bias menjadi resisten akibat pemberian antibiotic yang tidak sesuai dengan ketentuan. Dalam keadaan ini, pemberian antibiotic menjadi percuma karena ayam tidak akan sembuh. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sejauh mana resistensi tidak dapat digenerelisir untuk semua wilayah dan sepanjang waktu.
Semestinya resistensi dapat dihindari jika penggunaan antibiotic sesuai dengan aturan pakai, baik dari dosis maupun lamanya pemakaian. Umumnya, penyelewengan yang menyebabkan resistensi yang terjadi dilapangan adalah sub level dosis antibiotic, tetapi dosisnya dikurangi. Demikian juga pada lamanya pemakaian. Semestinya, pemberian antibiotic diberikan 3-5 hari, tetapi pada pelaksanaannya kurang dari itu.
B.                 Karakter Antibiotik
Selain masalah resistensi, terdapat hal mendasar yang perlu diketahui yaitu kaidah penggunaan antibiotic. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan antibiotic dapat berjalan dengan efektif dan efisien.  Dari berbagai seminar kesehatan ternak yang diikuti Sudirman Bur, kunci sukses pengobatan meliputi diagnosis penyakit, diagnosis mikrobiologi, kultur dan uji sensitifitas, pemilihan anibakteri, dosis dan aplikasi yang benar, serta dukungan nutrisi, lingkungan dan manajemen.
Salah satu kunci suksesnya adalah mengenali antibiotic, meliputi sifat, penyerapan, cara kerja, spectrum dan reaksi komninasinya. Ditilik dari sifatnya, antibiotic memiliki kemampuan sebagai bakteriostatik yang menghambat pertumbuhan bakteri dan bakterisidal yang membunuh bakteri. Dari segi penyerapannya, ada antibiotic yang diserap oleh usus dan ada juga yang tidak dapat diserap.
Berikutnya adalah cara kerja antibiotic terhadap bakteri, antara lain melalui mekanisme penghambatan dinding sel bakteri, perusakan membrane sel, penghambatan sintesis protein, penghambatan sintesa DNA, dan penghambatan pembentukan asam folat. Sementara itu, jika ditilik dari sprektum jangkauan kerjanya terhadap jenis bakteri, ada antibiotic yang bias menjangkau semua jensi bakteri, ada yang hanya menjangkau bakteri tertentu, baik gram(+), gram (-), atau mikroplasma.
Penggunaan kombinasi antibiotic dimungkinkan dengan tujuan untuk meghhadapi capuran infeksi bakteri. Dengan kombinasi, didapatkan sinergisme (efek saling menguatkan) aktifitas antibiotic. Selain itu kombinasi dapat dilakukan untuk mengatasi bakteri, mencegah resistensi, mengurangi toksisitas, dan mencegah inaktifasi oleh enzim.
Beberapa kombinasi anibiotik dapat diterapkan berdasarkan sifatnya. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut karena ada yang sinergis dan antagonis (saling meniadakan). Kombinasi yang perlu diwaspadai yaitu campuran antara antibiotic yang bersifat bakteriosatatik dan bakterisidal yang bersifat antoagonis.
Untuk manjamin penggunaan antiboitik yang sesuai dengan aturan, solusi yang dianjurkan oleh beberapa pelaku obat hewan adalah edukasi dan regulasi. Bagi peterbak kecil, diperlukan edukasi tentang penggunaan antibiotic yang rasioanl dan tepat guna.
Selain itu, perlu diupayakan adanya perbaikan aturan-aturan yang dari regulasi yang ada. Misalnya, penyusunan konsep penggunaan antibiotic yang jelas, baik sebagai pencegahan, pengobatan maupun growth promoter. Idealnya, penggunaan jenis antibiotic seharusnya bias dibedakan antara obat hewan dengan obat manusia.



Bentuk memo biosekuriti “Berkah Group”

INTERNAL MEMO
Tanggal           : 26 Februari 2005
Dari                 : Production Head Office Berkah Group
Kepada            : 1. Seluruh Supervisor Berkah Group
                          2. Seluruh Kepala Kandang Berkah Group
                          3. Seluruh Karyawan Berkah Group

CC                   : 1. Bpk. H. Drs. Sudirman Bur
                          2. Tim Technical Support
                          3. Seluruh Investor
 

Hal                  : PROSEDUR BIOSECURITY

            Menyikapi perkembangan belakangan ini mohon prosedur Bio Security dibawah ini untuk dijalankan sebaik-baiknya:

KONDISI NORMAL:
a)      Setiap kendaraan keluar ataupun yang akan memasuki lokasi Farm harus disemprot dengan desinfektan.
b)      Tidak diperkenankan menerima tamu tanpa ada ijin minimal Production Head (Kepala Produksi) atau Tim Technical Support.
c)      Harus disediakan Bak Celup kaki dimasing-masing kandang.
d)     Melakukan penyemprotan secara rutin 3 hari sekali pada saar ayam dengan antivirus+AI.
e)      Senantiasa menjaga kebersihan lingkungan farm seperti
1.      Selalu memusnahkan rumput dengan racun rumput.
2.      Mengangkat tanaman yang ada diair (kolam/comberan) seperti tanaman kangkung dsb.
3.      Melakukan Clorinasi (pemberian kaporit) air.
KONDISI KHUSUS (SETELAH WABAH PENYAKIT)
            Prosedur diatas tetap dijalankan ditambah dengan prosedur sebagai berikut:
a)      Sebelum pupuk diangkat, disemprot dulu semua bagian kandang termasuk pupuk dengan formalin.
b)      Gunakan soda api untuk menyiram bagian alat dan kolong bawah kandang.
c)      Gunakan Dursban pada kandang tua yang banyak kutu frengkinya.
d)     Istirahatkan kandang dalam keadaan steril lebih panjang dari istirahat kandang biasa.

Demikian untuk bias dijalankan dengan baik.

Doddy Maryadi, SE
Production Head



Tabel Program Kesehatan.
Umur (hari)
Vaksinasi
Vitamin/Antibiotik
1

Vitamin/Antibiotik
2

Vitamin/Antibiotik
3

Vitamin/Antibiotik
4

Air Putih
5
ND (L) + ND/AI (K)
Vitamin
6

Vitamin
7

Vitamin
8

Air Putih
9

Air Putih
10

Air Putih
11

Vitamin
12
Gumboro (L)
Vitamin
13

Vitamin
14

Antoibiotik
15

Antoibiotik
16

Antoibiotik
17

Vitamin
18

Vitamin
19

Vitamin

Catatan : Pemeliharaan dari umur 20 hari sampai akhir pemeliharaan diberikan vitamin, akan tetapi 5 hari sebelum panen pemberian vitamin di hentikan untuk mengurangi residu dari vitamin. Sehingga kualitas ayam tetap terjaga dan daging aman untuk dikonsumsi.

1 komentar:

  1. sebenarnya berapakah jarak ideal kandang dengan akses jalan dan pemukiman penduduk ?

    BalasHapus

Terima kasih atas saran dan kritiknya